Simak

Sejarah Ahegao : Polemik Rasis Hingga Kasus Asusila

0
Sejarah Ahegao : Polemik Rasis Hingga Kasus Asusila 1

Bagi para penggemar anime khususnya anime H 18+ istilah “Ahegao” agaknya tidak asing di telinga. Namun, Ahegao nampaknya menjadi suatu polemik baru di tahun 2020 lalu. Banyak orang-orang Asia mengatakan bahwa wajah ahegao hanya akan menjadi rasis terhadap Ras Asia. Ini ramai di jagad twitter yang mungkin jarang digunakan wibu pada umumnya saat itu (Twitter ramai akhir-akhir ini mungkin dikarenakan simper vtuber).

Masalah ahegao di tahun 2020 agaknya masih abu-abu karena tidak ada yang menjelaskan dengan valid mengapa itu rasis. Dan, Twitter berada di luar konteks sehingga tidak dapat membantu.

Pokoknya, percepat ke tahun 2021 dimana percakapan ahegao masih berlanjut.

Berikut Pemahaman Mangapa Ahegao Dianggap Rasis :

Seiring berjalannya waktu, ahegao berkembang menjadi bahan banyolan seperti meme, lelucon, sedikit komedi, atau apa pun itu. Meski demikian, ahegao memiliki akar sejarah yang jauh dari kata ‘komedi’.

Sejarah Ahegao Menurut Wikipedia :

“Istilah Ahegao atau O-face dalam bahasa Inggris, sudah ada sejak awal 1990-an. Majalah menggunakan kata tersebut untuk menggambarkan ekspresi wajah aktris porno live-action wanita saat orgasme. Dalam konteks yang sama, ahegao digunakan dalam beberapa postingan di 2Channel dan komunitas kembarnya untuk konten dewasa, BBSPink , serta dalam video porno di platform e-commerce dewasa di awal tahun 2000-an. ”

Penjelasan lain terkait ahegao yang pernah diposting di twitter

Sejarah Ahegao : Polemik Rasis Hingga Kasus Asusila 2

“Rekaman paling awal yang saya temukan tentang ahegao adalah pada 1980-an oleh seorang seniman bernama Suehiro Maruo. Ia adalah seniman ero guro.

Ia menulis komik berjudul Shōjo Tsubaki yang menggambarkan tindakan mengerikan dari kekerasan fisik & seksual terhadap seorang gadis berusia 12 tahun.”

Sejarah Ahegao : Polemik Rasis Hingga Kasus Asusila 3

Dilansir dari wikipedia, sinopsis manga Shojo Tsubaki bercerita tentang :

“Seorang gadis lugu berusia 12 tahun yang sangat menikmati hidupnya sebagai murid. Namun, semuanya berubah setelah ayahnya pergi dan ibunya meninggal. Midori terpaksa putus sekolah dan menjual bunga di kota. Midori yatim piatu kemudian bertemu dengan orang asing yang membawanya menuju sirkus. Apa yang menunggunya akan mengubah hidupnya, dan dia, selamanya. “

Di twitter itu pula terdapat detail pengertian dari ahegao secara singkat :

Sejarah Ahegao : Polemik Rasis Hingga Kasus Asusila 4

“Ahegao, ekspresi wajah populer saat menjulurkan lidah dan menjulingkan mata, berasal dari erotika Jepang yang ditulis oleh seorang pria yang berfantasi tentang penyerangan terhadap anak-anak. Ini memainkan dan memperkuat stereotip bahwa wanita Jepang tunduk, mudah dikuasai / dimanipulasi, dan bahwa mereka ingin / pantas mendapatkan perlakuan yang kasar. ”

Rasis & Fatish :

Fatish ahegao ini telah jelas meluas dan sekarang dilakukan rata-rata oleh pria kulit putih pada umumnya, seperti misalnya orang kulit putih yang berasal dari Amerika.

Contoh beberapa kasus yang diungkapkan seseorang melalui twitter :

Sejarah Ahegao : Polemik Rasis Hingga Kasus Asusila 5

Sejarah Ahegao : Polemik Rasis Hingga Kasus Asusila 6

“Saya berulang kali dilecehkan oleh saudara tiri saya (kulit putih) karena saya orang Asia dan menyukai film porno yang dia tonton. Dia meminta saya untuk membuat “wajah konyol” dan menunjukkan foto Ahegao dan meminta saya untuk melakukannya saat melakukan tindakan seksual padanya.

Saya juga pernah di-bully dan dilecehkan oleh laki-laki karena tidak ingin memenuhi impian waifu hentai mereka dan melakukan Ahegao saat berhubungan seksual dengan mereka. Beberapa bahkan marah dan mengancam saya.”

Sejarah Ahegao : Polemik Rasis Hingga Kasus Asusila 7

 

Sejarah Ahegao : Polemik Rasis Hingga Kasus Asusila 8

Sejarah Ahegao : Polemik Rasis Hingga Kasus Asusila 9

Sejarah Ahegao : Polemik Rasis Hingga Kasus Asusila 10

“Fetisisasi dan seksualisasi orang Asia mengakar dalam. Saya telah mengalaminya sepanjang hidup saya. Dan itu sungguh-sungguh berarti seumur hidup saya. Sebagai seorang anak berseragam sekolah, saya berulang kali menjadi bahan seksual. Saya cocok dengan tampilan Asian Schoolgirl yang sangat populer.

Meningkatnya popularitas anime, manga dan hentai hanya mengarah pada seksualisasi lebih lanjut di mana saya yang masihlah anak di bawah umur. Ketika saya berusia 15 tahun, saya mulai dipersiapkan oleh seorang pedofil. Dia berkulit putih dan dia rasis. Dia mengatakan kepada saya bahwa dia tidak akan pernah memiliki anak dengan orang yang non-kulit putih untuk “melindungi garis ras.

Dia memanggil saya “putri kuning” -nya. Dia adalah penggemar berat anime. Dia menonton hentai, lolicon, dan pornografi anak. Dia membahas sesuatu seperti itu yang membuat saya mendapatkan tato lolicon ketika saya cukup besar. Pria ini merawat saya dan melecehkan saya sampai dia masuk penjara.

Saya tidak ragu bahwa obsesinya dengan hentai dan lolicon berperan dalam pelecehan saya. Saya adalah fantasinya itu. Saya adalah seorang siswi Asia. Ahegao tidak populer saat itu, tapi seandainya aku tahu itu pasti, membuat wajahku akan menarik seperti itu. Karena itu mempengaruhi keinginannya.

Jadi ketika kita mengatakan ahegao itu rasis, itu merugikan kita dan menjadikan kita bahan seksual, kita tidak mengatakannya berdasarkan apa-apa. Itu berdasarkan fakta bahwa gambar-gambar ini merugikan kita. Fetisisasi orang Asia mengarah pada pelecehan kita. Untuk pemerkosaan kami. Untuk pedofil yang memangsa kita. “

Sejarah Ahegao : Polemik Rasis Hingga Kasus Asusila 11

“Sebagai wanita Jepang, ya untuk semua ini. Stereotip yang menjadi asumsi yang diperkuat ketika Anda terlibat dalam perilaku apropriasi budaya. Berhenti merendahkan wanita Asia dan mendidik diri sendiri sebelum berpartisipasi dalam penindasan kami. Dan tidak, menonton anime bukan berarti membuat Anda memenuhi syarat.

Sehubungan dengan #stopracismagainstasians, di mana percakapan masih berlangsung

Sejarah Ahegao : Polemik Rasis Hingga Kasus Asusila 12

Seorang wanita kulit putih dengan page “only fans” berbicara tentang Ahegao dan implikasinya.

Pada dasarnya dia meremehkan efek yang dihasilkan, sambil mengatakan “Aku masih akan melakukan Ahegao”.

Ironisnya, banyak orang yang menanggapi Tweet tersebut dan membagikan mengapa itu rasis, lalu kemudia diblokir oleh wanita ini.

Dia bahkan memblokir wanita yang sama yang menyebutkan kisah traumatisnya menjadi pedih karena Ahegao dan stereotip yang digambarkannya.

Sejarah Ahegao : Polemik Rasis Hingga Kasus Asusila 13

Sejarah Ahegao : Polemik Rasis Hingga Kasus Asusila 14

Sejarah Ahegao : Polemik Rasis Hingga Kasus Asusila 15

Sejarah Ahegao : Polemik Rasis Hingga Kasus Asusila 16

Informasi yang didapat sangat kurang untuk memvalidasi kasus ini, selain akun anonim yang mengungkapkan pengakuannya masih diragukan kebenarannya, kasus ini masihlah abu-abu karena sedikit bukti terkait hal ini.

Hampir tidak ada orang (di komunitas Asia Timur, terutama Jepang) yang membicarakannya secara luas. Tapi itu normal karena rasisme, fetisisasi, dan stereotip disimpan dalam kegelapan.

Orang yang menghadapinya tidak ingin merasa seperti mereka yang mengeluh atau mereka yang hanya berpikir tidak ada yang peduli jadi mengapa repot-repot membicarakannya.

Rasisime dalam komunitas anime agaknya menjadi hal yang sering terjadi akhir-akhir ini.

 

Sumber : AnimeMotivation

Artikel Wawancara Shinsei Kamattechan Baru Saja Dipublikasikan Di Situs Khusus Resmi Mereka Untuk Lagu Baru Mereka ‘My War (Boku No Sensou)’.

Previous article

Film Live-Action Sekuel Kaguya-sama: Love is War Diperankan oleh Yuka Kageyama dari Hinatazaka46

Next article

You may also like

More in Simak

Komentar